dunia hanya sementara

hidup di dunia hanya sementara, akhirat yang akan menjadi rumah kekal kita entah di surga atau neraka

Rabu, 26 November 2014

LAPORAN OBSERVASI



MAKNA BUKA LUWUR BAGI PARA PENGUNJUNG

LAPORAN OBSERVASI
Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester
Mata Kuliah : IAD,ISD,IBD
Dosen Pengampu : Efa Ida Amaliyah



Disusun Oleh :
                        Muhammad Syaifur Roja’i     :                       1410210004
Wirda Maksum                       :                       1410210005
                        Shelly Deviana                        :                       1410210009
                        Ayyun Rofiqotul Ulya                       :                       1410210016
                        Kafia Anshori                         :                       1410210019
Lailatun Nikmah                     :                       1410210022
Susi Khomsatun                      :                       1410210030


 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN BAHASA ARAB-A
2014
A.  Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan di Indonesia tersebar di berbagai pulau dari Sabang sampai Merauke. Dari berbagai budaya tersebut  memiliki ciri khas yang berbeda satu sama lain. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan geografis, dengan struktur sosial di masyarakat hal tersebut akan mampu dipahami.
Dengan akal budi, manusia mampu menciptakan sebuah kebudayaan. Kebudayaan pada dasarnya adalah hasil akal budi manusia dalam interaksinya, baik dengan alam maupun manusia.[1] Selo Soemarjan merumuskan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa dan cipta masyarakat[2]. Di kalangan masyarakat Jawa terdapat banyak budaya maupun tradisi peninggalan Hindu dan Budha yang sebagian besar telah disisipi ajaran Islam. Tradisi-tradisi tersebut sampai sekarang masih dipercayai dan dilestarikan oleh masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Salah satunya adalah Upacara Buka Luwur Makam Sunan Kudus. Buka Luwur adalah ritual penggantian kain kelambu kain mori (Luwur) yang digunakan untuk menutupi makam sunan kudus (Syaikh Ja’far Shadiq) dan bangunan sekitar makam.
Buka luwur merupakan uapacara sakral yang pelaksanannya di awali dengan berbagai ritual, diantaranya adalah penjamasan keris sunan kudus yang dilakukan di hari kamis pertama setelah hari tasyrik (11,12,13 dzulhijjah) dan diakhiri dengan pemasangan luwur baru dan pembagian sego jangkrik[3]. Menurut pandangan masyarakat, pelaksanaan buka luwur tersebut memiliki makna tersendiri. Beberapa masyarakat menganggap air bekas penjamasan keris sunan kudus dapat mendatangkan barokah, begitu juga pandangan masyarakat terhadap sego jangkrik yang mereka dapatkan. Bahkan demi mendapatkan barokah dari sego jangkrik tersebut masyarakat rela mengantri berdesak-desakan dengan orang banyak dan ada pula yang membeli sego jangkrik karena tidak memperoleh nasi dalam pembagian sego jangkrik atau mungkin tidak ingin mengantri lama-lama.
Bapak Deni Nur Hakim sebagai ketua penyelenggara ritual Buka Luwur menyatakan bahwa, “dalam ritual Buka Luwur terdapat banyak pengunjung yang berdatangan dari berbagai penjuru. Baik dari daerah Kudus sendiri maupun dari daerah lain. Ritual islami ini juga tidak hanya didatangi oleh masyarakat muslim namun masyarakat non-muslim juga ikut datang mengikuti ritual ini.”. Dalam ritual buka luwur yang dilaksanakan selama 10 hari, ada beberapa ritual yang dilaksanakan terbuka untuk umum dan ada pula yang tertutup yang dilaksanakan oleh panitia penyelenggara buka luwur serta hanya dimasuki orang-orang terpilih saja yang di izinkan mengikuti.

B.   Sejarah buka luwur
Buka luwur diambil dari bahasa jawa yaitu buka dan luwur. Buka yang artinya membuka dan luwur adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kain kafan atau kain mori yang berfungsi sebagai penutup nisan atau makam. Sedangkan menurut istilah buka luwur adalah ritual sakral penggantian luwur pada makam Kanjeng Sunan Kudus yang dilaksanakan 1 tahun sekali pada tanggal 10 Muharram yang merupakan tradisi turun-temurun dari generasi ke generasi.
Ritual sendiri adalah suatu acara seremonial yang melibatkan hal-hal yang berbau mistis. Menurut Dhavamony(2000:175) ritual dibedakan menjadi empat macam yaitu: 1. Tindakan magi yang dikaitkan dengan bahan-bahan yang bekerja karena daya-daya mistis. 2. Tindakan religius, kultus para leluhur juga bekerja dengan cara ini. 3. Ritual konstitutif, yang mengungkapkan atau mengubah hubungan sosial dengan merujuk pada pengertian-pengertian mistis, dengan cara ini upacara-upacara kehidupan menjadi khas. 4. Ritual faktitif, yang meningkatkan produktivitas atau kekuatan, atau pemurnian dan perlindungan, atau dengan cara lain meningkatkan kesejahteraan materi suatu kelompok[4] .
Buka luwur sendiri diadakan setelah wafatnya Syaikh Ja’far Shodiq (Kanjeng Sunan Kudus) yang dilakukan masyarakat setempat untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa beliau. “Sesungguhnya buka luwur itu bukan haul, sebab kematian mbah sunan tidak  diketahui oleh masyarakat banyak.”. celetuk Pak Deni Nur Hakim. Hal tersebut bisa disimpulkan bawasannya, buka luwur merupakan cara dari masyarakat kota kudus menghormati dan mengenang jasa-jasa beliau(sunan kudus) akan tetapi acara tersebut tidak memperingati haul mbah sunan(Syaikh Ja’far Shodiq), namun acara tersebut sebagai penghormatan masyarakat kepada beliau.
Selain sebagai ritual tahunan, ritual ini juga menggambarkan kepribadian dari masyarakat Kudus khususnya daerah sekitar makam kanjeng sunan (Desa Kauman). Ritual tersebut dari pihak penyelenggara yayasan tidak memprioritaskan nagajuke proposal (permohonan sumbangan dari orang lain) sebagai dana pelaksanaan ritual buka luwur ini. Melainkan masyarakat sendirilah yang memberikan bantuan baik berupa harta maupun tenaga. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kudus kepada masyarakat untuk hidup mandiri tanpa tergantung kepada orang lain. Terkadang Buka luwur di Kudus, ada beberapa warga non-muslim terkadang ikut andil dalam menyumbang dan mengikuti acara tersebut karena menurut warga non-muslim mengikuti acara itu sebagai penghormatan kepada mbah sunan.
C.  ANALISIS DATA

Sunan kudus (syaikh ja’far shodiq) merupakan tokoh agama dan tokoh masyarakat di kota Kudus.[5] Beliau merupakan  putra dari Raden Usman Haji[6]. Setelah beliau wafat, masyarakat sekitar daerah kudus khususnya daerah kauman mengadakan suatu acara keagamaan untuk mengenang dan menghormati jasa beliau. Berbagai acara keagamaan tersebut dilakukan oleh masyarakat, salah satunya adalah acara Buka Luwur yang dilakukan pada bulan Muharrom. Walaupun masyarakat belum tahu pasti kapan beliau wafat, mereka tetap melakukan ritual ini di bulan Muharrom, karena bulan tersebut adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah.
Dari tradisi tahunan ini banyak berdatangan para pengunjung (zaairiin) dari dalam kota Kudus sendiri ataupun dari luar kota. Maksud dan kedatangan merekapun berbeda-beda. Emile Durkhiem menyatakan bahwa pemikiran masyarakat dapat digunakan sebagai alat analisis kondisi masyarakat Indonesia pasca reformasi, yang menghadapi problem integrasi sosial[7]. Berdasarkan teori tersebut kami berusaha mengumpulkan data-data seputar makna Buka Luwur  bagi pengunjung dengan mewawancarai beberapa pengunjung yang datang pada prosesi sebelum, sesudah dan puncak Buka Luwur serta panitia pelaksana prosesi tersebut.
Dalam memaknai sesuatu  terdapat banyak pendapat. Salah satu pengunjung  asal  Kudus sendiri yang bernama Bapak Rif’an sebagai guru MTs. Matholi’ul Huda (38 tahun) memaknai tradisi Buka Luwur sebagai acara penghormatan untuk mengenang jasa sunan Kudus dan ngalap berkah[8] dari para wali. Ia juga mengatakan “Buka Luwur merupakan sebuah tradisi, sebelum tradisi dilakukan biasanya murid-murid saya, saya ajak ke makam mbah sunan mengenalkan murid-murid saya yang belum tahu[9], disamping itu juga supaya mereka terbiasa dan melestarikan budaya tersebut,hal lain yaitu untuk bertawasul kepada para wali Allah agar lebih cepat diijabahi oleh Allah”.









Gambar 1. Wawancara dengan salah satu pengunjung ( Bapak Rif’an guru MTs. Matholi’ul Huda 38 tahun ).

Selanjutnya dari salah seorang murid di MA Qudsiyyah Kudus yang berasal dari welahan kota jepara, yang bernama Ni’am(18 tahun). dia menganggap buka luwur adalah mengganti kain kafan putih dan acara yang menyenangkan[10]. Kedatangannya ke menara kudus sa’at prosesi bukak luwur tak lain hanya untuk menyambut bulan syuro. Dia ingin syuronan di menara dan mengikuti berbagai acara disana. Sedangkan dia juga memaknai buka luwur sebagai cara untuk “ngalap berkahe mbah sunan”. Selain itu ia juga datang dalam acara pembagian sego jangkrik, menurutnya “acara itu merupakan gambaran seseorang yang ingin sukses itu haruslah bersabar dan tidak nggonduk[11]”.





Gambar 2. Wawancara dengan siswa M.A. Qudsiyah
Lain halnya bagi mahasiswi UMK (Universitas Muria Kudus) yang berasal dari Kudus dan sudah semester tujuh, yang bernama Nia (21 tahun). Dia menganggap bawasannya buka luwur merupakan prosesi pergantian luwur dan dilakukan pada tanggal 10 Muharom. sebagai wujud dari penghormatan kepada sunan kudus. Disamping itu dia menambahi jawabannya “sebagai generasi penerus kita harus melestarikan tradisi buka luwur kalau bukan kita siapa lagi, dan itu semua sebagai penghormatan terhadap mbah sunan dapat terus diwujudkan.” Dia juga menyatakan bahwa hikmah dari buka luwur itu sendiri adalah dapat menguatkan aqidah seseorang. Dan terkadang mbak nia ikut mengambil dan memakan sego jangkrik. Menurutnya berkahnya sangat banyak dari sego tersebut, apabila tidak termakan sego tersebut dijadikan karak ( nasi yang dikeringkan ) lalu di tabur di halaman rumah agar barokah dari sego tersebut terus mengalir menurut orang tuanya[12].











Gambar 3. Wawancara dengan mahasiswi UMK ( Universitas Muria Kudus ) yang berkunjung pada acara Buka Luwur.

Pendapat berikutnya dari pengunjung berusia 35 tahun bernama  Bapak Ahmad dari desa Burian, Kudus. Ia berpandangan bahwa Buka Luwur merupakan salah satu ritual untuk menguatkan akidah ( keyakinan ). Disamping itu ia mendifinisikan  ritual tersebut sebagai acara peringatan khaul mbah sunan. “setiap satu tahun sekali acara seperti ini dilaksanakan, jadi saya kira bahwa acara ini merupakan peringatan khaul Mbah Sunan. Disamping itu acara ini juga meniru salah satu kebiasaan Kanjeng Nabi. Dimana Beliau juga setiap tahun memeringati hari kematian para syuhada’ yang gugur di medan perang seperti paman beliau Hamzah yang terbunuh dalam perang Uhud.” Begitulah pendapatnya. Dimasa mudanya,  bapak Ahmad sering mengantri untuk mendapatkan sego jangkrik dimana beliau rela berdesak-desakkan saat mengantri bahkan sampai beberapa kali sandalnya rusak karena terinjak-injak oleh banyak orang yang  ramai mengantri. Namun beliau tidak putus asa demi mendapatkan sego jangkrik. Karena beliau percaya bahwasanya sego jangkrik tersebut memiliki banyak khasiat. Dari pelaksanaan buka luwur yang pernah diikutinya, beliau percaya penuh pada barokah itu ada. Dalam penafsiran beliau, barokah tersebut berasal dari Allah dan sunan Kudus hanya sebagai wasilah atau perantara saja, karena menurut beliau sebagai sorang muslim wajib berwasilah pada wali Allah.





Gambar 5. Wawancara kepada Bapak Ahmad dari Desa Burian Kudus yang berkunjung ke acara buka luwur Sunan Kudus.
            Masih banyak lagi persepsi dari para pengunjung yang tidak dapat kami paparkan keseluruhannya. Namun semua itu dapat mewakili berbagai persepsi masyarakat tentang buka luwur dalam observasi kami.
                

D.  PENUTUP

a.       Simpulan

Buka Luwur merupakan Tradisi yang ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Hingga sekarang tradisi tersebut masih dilestarikan oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya. Hal ini kemudian yang menimbulkan simpati para masyarakat dari Kudus maupun masyarakat daerah lain untuk mendatangi prosesi tersebut.kedatangan merekapun dengan alasan yang berbeda-beda sehingga menimbulkan penafsiran makna yang berbeda pula. Berikut berbagai persepsi para pengunjung di bedakan dari usianya dalam memaknai buka luwur,
No
Kategori
usia
Pernyataan makna buka luwur
1.
Anak-anak
00-10
Mengikuti teman-teman
2.
Remaja
11-22
Ngalap berkah dan acara yang menyenangkan
3.
Dewasa
23-37
Memperingati khaul suanan kudus dan pergantian luwur
4.
Orang tua
38-...
Penghormatan terhadap mbah sunan atas segala jasa-jasanya

b.      Saran
Demikianlah Penyusunan lapora yang kami dapat susun, sebagai cacatan penutup bahwa observasi kami, masih banyak kekurangan dan kelemahan pada laporan ini. Oleh sebab itu, jika ada kritik, saran atau masukan yang sifatnya membangun bagi kami, kami ucapkan banyak terimaksaih. Dan mohon maaf jika sekiranya apa yang kami sajikan, terdapat kekurangan dan kekeliruan di dalamnya.

Daftar Pustaka

-          Herimanto dan Winarno. 2013. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara
-          Syam Nur. 2005.Islam Pesisir, Yogyakarta:LKIS
-          Salam Solichin. 1989. Ja’far Shadiq Sunan Kudus, Kudus:Menara Kudus
-          Soelaeman M. Munandar. 2011.Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Refika Aditama
-          Soerjono Soekanto,dkk. 2013.Sosiologi Satu Pengantar .Jakarta:Rajagrafindo


[1] Herimanto Winarno,  Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hal  21
[2] Soerjono Soekanto,dkk. Sosiologi Satu Pengantar, (Jakarta:Rajagrafindo,2013) hlm.151.
[3] Sego jangkrik merupakan istilah untuk menyebut nasi yang dibungkus daun jati dan juga merupakan nasi kesukaan darti sunan kudus. Nasi tersebut dibagikan kepada masyarakat secara Cuma-Cuma pada tanggal 10 muharrom.
[4] Nur syam.Islam Pesisir, (Yogyakarta:LKIS,2005) hal. 17
[5] Solichin salam. Ja’far Shadiq Sunan Kudus, (Kudus:Menara Kudus,1989). Hal. 12
[6] Raden usman haji atau lebih terkenal dengan gelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan tempat tersebut terletak disebelah utara Blora)
[7] M. Munandar Soelaeman. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial Dasar. ( Bandung: Refika Aditama. 2011 ) hlm. 32.
[8] Berharap mendapat barokah dari sunan kudus
[9] Budaya buka luwur merupakan budaya lokal kudus yang kurang lebihnya ada beberapa orang yang kurang tau lebih mengerti tentang buk luwur sendiri.
[10] Menyenangkan disini karena ada pengajian, terbang papat dan lain lain
[11] Tidak sakit hati ketika di sebuah lingkungan
[12] Di tabur di sekitar rumah  agar rejeki bisa lancar

makalah



Tugas Kelompok 1
JAM’UL QUR’AN
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an


Description: D:\logo stain.jpg

Dosen Pengampu : Dr. Hj. Umma Farida., Lc. MA


Di susun oleh :
1.               M. Syarofiddin Akmal            : 1410210001
2.               Kafia Ansori                           : 1410210019
3.               Nunung Afnikha                     : 1410210023
4.               Susi Khomsatun                      : 1410210030



 


SEKOLAH TINGGAI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH / PBA
2014
BAB I
Pendahuluan dan Latar Belakang

Pada zaman Rasulullah SAW, pemeliharaan ayat-ayat al-Qur’an dilakukan melalui hafalan baik oleh Rasulullah maupun oleh sahabat-sahabat beliau. Namun kemudian Rasul memerintahkan para sahabat untuk menulisnya dengan tujuan untuk memperkuat hafalan mereka. Ayat-ayat al-Qur’an tersebut ditulis melalui benda-benda seperti yang terbuat dari kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelapah kurma, tulang binatang dan lain-lain.Tulisan-tulisan dari benda-benda tersebut dikumpulkan untuk Nabi dan beberapa diantaranya menjadi koleksi pribadi sahabat yang pandai baca tulis.
Tulisan-tulisan melalui benda  yang berbedar tersebut memang dimiliki oleh Rasulullah namun tidak tersusun sebagaimana mushaf yang sekarang ini. Namun, ketika Rasul wafat, dan digantikan oleh khalifah Abu Bakar, terjadi pemurtadan masal dan menyebabkan Khalifah Abu Bakar melakukan tindakan dengan cara memeranginya. Dalam perang yang disebut perang Yamamah tersebut sekitar 70 Huffaz (para penghafal Qur’an) mati syahid.
Dari situlah muncul gagasan untuk mengumpulkan Ayat al-Qur’an yang dipelopori oleh Umar bin Khattab. Meskipun gagasan tersebut tidak langsung disetujui oleh Khalifah Abu Bakar, namun alasan Umar bin Khattab bisa diterima dan dimulailah pengumpulan al-Qur’an hingga selesai. Dengan demikian, disusunlah kepanitiaan atau Tim penghimpun al-Qur’an yang terdiri atas Zaid bin Tsabit sebagai ketuadibantu oleh Ubay bin Ka’ab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan para Sahabat lainnya sebagai Anggota.
Namun dengan rentan waktu yang panjang, mulai pada tanggal 12 Rabbiul Awwal tahun 11 H/632 M yang ditandai dengan wafatnya Rasulullah, hingga 23-35 H/644-656 M (masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan) atau sekitar 18 tahun setelah wafatnya nabi barulah dibukukan al-Qur’an yang dikenal dengan Mushaf Utsmani. Antara rentan waktu yang cukup panjang hingga beragam suku dan dialek apakah berpengaruh atas penyusunan kitab suci al-Qur’an tentunya masih menjadi tanda tanya.
Sementara pandangan seperti di atas, umat Islam di Seluruh Dunia meyakini bahwa al-Qur’an seperti yang ada pada kita sekarang ini adalah otentik dari Allah swt. melalui Rasulullah saw., namun cukup menarik, semua riwayat mengatakan bahwa pembukuan kitab suci itu tidak dimulai oleh Rasulullah saw., melainkan oleh para sahabat beliau, dalam hal ini khususnya Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan Usman Bin Affan.
Pesan komunikasi yang telah melewati perantara dari seorang tertahap orang lain, terlebih melewati frekuensi jumlah orang yang banyak akan meragukan keabshahan pesan alsi tersebut. Selain itu, rentan waktu yang cukup lama juga amat berpengaruh terhadap nilai dari pesan. Yang menarik adalah seperti apa membuktikan bahwa pesan al-Qur’an adalah sesuatu yang telah ditetapkan berdasarkan ketetapan Allah!.
Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksuddengan Jam’ul Qur’an ?
  2. Bagaimana proses pengumpulan al-Qur’an pada setiap periode ?
BAB II
Pembahasan Masalah
1.      Pengertian Jam’ul Qur’an
Menurut pendapat para ulama’ “Al-Qur’an adalah kalam Allah yang berupa mukjizat, diturunkankepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara mutawatir,serta dinilai beribadah ketika membacanya”. Maka, al-Qur’an sampai kepada kita melalui proses penukilan. Karena itu, pengumpulan al-Qur’an itu tidak lain merupakan bentuk penghafalan al-Qur’an di dada dan penulisannya dalam lembaran. Kedua hal inilah yang mencerminkan proses penukilan al-Qur’an. penghafalan al-Qur’an di dada dan penulisannya dalam lembaran ini secara real telah berlangsung dari masa ke masa, sejak Rasul hingga kini.
Ditinjau dari segi bahasa, al-Jam’u berasal dari kata  يخمع- جمع yang artinya mengumpulkan. Sedangkan pengertian al-Jam’u secara istilah ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’ . Salah satunya adalah pendapat al-Qurtubi dan Ibnu Katsir “maksud dari Jam’ul Qur’an adalah menghimpun al-Qur’an dalam hati atau menghafal al-Qur’an”. Ada juga yang berpendapat bahwa Jam’ul Qur’an dibagi 2 macam yaitu :
1.      Jam’ul Quran fi shuduur ( menghafalkan ayat-ayat Al-qur’an ) .
2.      Jam’ul Qur’an fi sutur ( menulis ayat-ayat Al-qur’an dalam mushaf ) .
Berdasarkan pendapat para ulama di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Jam’ul Qur’an adalah usaha penghimpunan dan pemeliharaan al-Qur’an yang meliputi penghafalan, serta penulisan ayat-ayat serta surat-surat dalam al-Qur’an.
2.      Periode Penghimpunan Al-qur’an

1.       Jam’ul Qur’an PeriodeNabi.
Bangsa Arab memiliki daya hafal yang kuat.Sehingga dalam menulis berita, syair, atau silsilah keluarga mereka hanya menuliskannya dalam hati. Termasuk ketika mereka menerima ayat-ayat al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.Diantara faktor pendorong penulisan al-Qur’an pada masa Nabi adalah :
1.      Mem-back up hafalan yang telah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.
2.      Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna, karena hafalan para sahabat saja tidak cukup karena terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka sudah wafat.
Pada zaman rosul para sahabat menulis ayat-ayat yang mereka hafal diatas bsrbagai macam benda seperti lembaran lontar (daun yang dikeringkan) , batu tulis berwarna putih, terbuat dari kepingan batu kapur, pelapah kurma, lembaran kulit binatang dan lain-lain.
Para sahabat menyodorkan al-Qur’an kepada Rasulullah secara hafalan maupun tulisan.Tetapi tulisan-tulisan yang terkumpul pada jaman nabi tidak terkumpl dalam satu mushaf, dan yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki yang lainnya.

2.       Jam’ul Qur’an Periode Abu Bakar Ash-Shidiq
Pasca wafatnya Rasulullah SAW, kekhalifahan bangsa Arab beralih kepada Abu Bakar. Pada masa kekhalifahannya, Abu Bakar dihadapkan oleh kemurtadan yang terjadi di kalangan bangsa Arab. Abu Bakar pun segera mengerahkan pasukan untuk menumpas kemurtadan. Perang itupun dikenal dengan sebutan Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 11 H/633 M.
Dalam perang tersebut, sekitar 70 orang Huffaz mati Syahid. Umar bin Khattab merasa khawatir atas peristiwa ini. Maka Umar mengadukan kekhawatirannya tersebut kepada Abu Bakar.

Mendengar  hal tersebut Abu Bakar memberikan tugas pada Zaid bin Tsabit untuk membentuk komisi penulisan Al-quran, yang mana sebagai pengumpul dan pengawas komisi ini Zaid bin Tsabit dibantu Umar sebagai sahibul fikrah yakni pembantu khusus, pada waktu itu usia Zaid masihlah muda namun Kholifah mempercayakan amanah ini kepadanya karena beberapa keistimewaannya antara lain : usianya sekitar 20-an secara fisik & psikis kondisinya masih prima, Akhlak yang terpuji, Kedekatannya dengan Rasulullah SAW, Kecerdasan yang dimilikinya.
Seperti diceritakan diatas, pengumpulan al-Qur’an dilaksanakan oleh Zaid atas arahan khalifah.Waktu pengumpulan Zaid terhadap al-Qur’an sendiri  sekitar 1 tahun. Hal ini dikarenakan Zaid bin Tsabit melakukannya dengan sangat hati-hati. Hal yang pertama kali Zaid lakukan adalah mengumumkan bahwa siapa saja yang memiliki berapapun ayat al-Qur’an, hendaklah diserahkan kepadanya.Ia tidak akan menerima satu ayat pun melainkan orang tersebut membawa bukti dan dua orang saksi yang menyatakan bahwa apa yang ia bawa adalah wahyu Qur’ani. Bukti pertama adalah naskah tertulis.Bukti kedua adalah hafalan.
Setelah semua ayat al-Qur’an terkumpul, kumpulan tersebut disimpan dalam kotak kulit yang disebut “Rab’ah”.Kemudian kumpulan tersebut diserahkan kepada Abu Bakar. Setelah beliau wafat, kumpulan atau lembaran – lembaran tersebut berpidah tangan kepada Umar. Lalu setelah Umar wafat, maka lembaran – lembaran tersebut disimpan oleh putrinya sekaligus istri Rasulullah SAW yaitu Hafsah binti Umar.
3.       Jam’ul Qur’an Periode Utsman
Pada zaman kholifah Ustman Islam bertambah luas, dan para Qurra‘ pun tersebar keseluruh wilayah hingga kearah utara Jazirah Arab sampai Azer baijan dan Armenia. Setiap wilayah diutuslah seorang Qari. Maka bacaan al-Qur’an yang mereka bawakan berbeda - beda. Nabi Muhammad SAW sendiri memang telah mengajarkan membaca al-Qur’an berdasarkan dialek mereka masing – masing lantaran dirasa sulit untuk meninggalkan dialek mereka. Namun adanya perbedaan dalam penyebutan atau membaca al-Qur’an yang kemudian menimbulkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.
Ketikaitu, orang yang mendengarbacaan al-Qur’an yang berbedadenganbacaan yang ia gunakan menyalahkannya. Bahkan mereka saling mengafirkan. Hal ini membuat Huzaifah bin al-Yaman resah dan mengadukan hal tersebut kepada Utsman. Menanggapi hal tersebut, Utsman mengirim utusan kepada Hafsah dan meminjam mushaf Abu Bakar. KemudianUtsman memanggil Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Ketiga orang terakhir adalah orang Quraisy.Utsman memerintahkan agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang Quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Qur’an turun dalam logat mereka.
Setelah mereka melakukan hal itu, Utsman mengembalikan mushaf kepada Hafsah. Mereka menyalinnya kedalam beberapa mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua Qur’an / mushaf lainnya dibakar. Mushaf tersebutlah yang dikenal dengan mushaf Utsmani.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jam’ul Qur’an adalah usaha penghimpunan dan pemeliharaan al-Qur’an yang meliputi penghafalan, serta penulisan ayat-ayat atau surat-surat al-Qur’an. Pengumpulan al-Qur’an dilakukan dalam tiga periode. Periode Nabi, periode Abu Bakar, dan periode Utsman.
1. Pada periode Nabi, pengumpulan al-Qur’an dilakukan melalui hafalan dantulisan. Penulisan al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad dilakukan untuk mencatat dan menulis setiap wahyu yang diturunkan kepadanya dengan menertibkan ayat – ayat di dalam surah-surah tertentu sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Penulisan al-Qur’an padamasa Nabi juga bertujuan untuk menguatkan penghafalan Qur’an parasahabat.
2. Pada periode Abu Bakar pengumpulan al-Qur’an terjadi karena banyaknya Huffaz yang wafat pada perang Yamamah. Pengumpulan tersebut dilakukan oleh Zaid bin Tsabit atas usulan dari Umar bin Khatab. Pengumpulan tulisan - tulisan al-Qur’an pada periode kekhalifahan Abu Bakar diurut berdasarkan urutan turunnya wahyu.
3. Pada periode Utsman, pengumpulan al-Qur’an dilakukan karena adanya perbedaan bacaan al-Qur’an di berbagai wilayah dan karena adanya aduan dari Huzaifah bin al-Yaman. Proses pengumpulan tersebut dilakukan oleh Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin “As, dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam. Mereka menyalinnya kedalam beberapa Mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf Utsmani. Pengumpulan tulisan - tulisan al-Quran pada periode kekhalifahan Utsman bin Affan diurut berdasarkan dengan tertib ayat maupun surahnya sebagaimana yang ada sekarang.
Saran
Demikianlah Penyusunan makalah ini disusun, sebagai cacatan penutup bahwa pemakalah menyadari akan banyaknya kekurangan dan kelemahan pada karya tulis ini, olehnya itu pemakalah berharap agar ada kritik, saran atau masukan yang sifatnya membangun untuk perbaikan makalah ini. Mohon maaf jika sekiranya apa yang disajikan oleh pemakalah, terdapat kekurangan dan kekeliruan di dalamnya.

Daftar Pustaka
M, Abdullah Al-Rehaili. 2003. Bukti Kebenaran Qur’an. Yogyakarta: Tajidu Press.
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. 2009. Ebook Shahih Al-Bukhari. Pustaka Pribadi.
Abdul, Umar Al-jabbar. Kholashoh nurulyaqin juz 3. Surabaya: maktabah al-hikmah